|
Dalam kenangan |
|
|
|
Contributed by Viana Wicaksono
|
Selamat jalan sahabat,
Setelah mengalamai serangkaian cobaan yang amat sangat berat, Sang Khalik yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akhirnya memanggilnya, Sabtu, 28 Maret 2009, sahabat kita Puji binti Harsono telah pergi . Almarhumah adalah mahasiswi privat angkatan tahun 1983 – 87,yang melanjutkan pelajaran ke Kyoto, setelah menyelesaikan D3 bahasan Jepangnya di Universitas Indonesia.
Telah lama dia menderita kanker payudara, ikhtiar demi ikhtiar, berbagai macam pengobatan sudah di coba, bahkan sampai ke Jepang, namun penyakit yang ganas ini, terus menerus menggerogoti kesehatannya hingga akhir hayatnya. Walaupun mengonsumsi berbagai macam obat, dia terus penuh canda dan tawa dan tetap kelihatan sehat dan cantik, pasti tidak ada yang mengira kalau dia ada penyakit ganas didalam tubuhnya. Di tahun ke 3, rambutnya yang panjang nan indah mulai menipis akibat kemoterapi yang harus dijalaninya, tahun ke 4, akibat dari semakin kerasnya obat yang harus di telan, mbak Puji, begitu aku memanggilnya, mulai mengalami penurunan fisiknya. Kalau tidak salah, sekitar tahun 2003 almarhumah terdeteksi kanker payudara. Salah satu sahabat yang memiliki usaha terapi kesehatan dengan memanfaatkan listrik gelombang rendah, menawarkan terapi dengan cuma-cuma. 2006 awal, Puji mulai mencoba terapi tersebut dan tidak lama kemudian mulai tampak hasilnya, sejak di terapi mulai terasa kesegaran.. Sedemikian bergairahnya sampai Puji bercerita kalau dia akan kembali bekerja walaupun hanya paruh waktu. Dokter rumah sakit yang menangani kemoterapinya juga mengakui kemajuan yang dicapainya, malah kemoterapi yang masih tersisa 5 kali dari 35 kali yang seharusnya dia lakukan, di stop karen kondisinya yang sudah membaik Namun, entah mengapa tiba-tiba saja dia tidak melanjutkan terapi ini. Awal 2007, senang rasanya mendengar kabar dari sahabatku ini, katanya, tubuhnya sudah terbebas dari kanker, Alhamdulillah….Bahkan Puji sudah mulai melakukan aktifitasnya lagi, yaitu mengajar bahasa Jepang dan seminar-seminar di beberapa perusahaan Jepang. Namun kebahagiaan ini ternyata tidak lama, medio 2007, penyakit itu timbul kembali, dan Puji harus mulai melakukan serangkaian pengobatan lagi, seperti kemoterapi, radiasi, bahkan melakukan sebuah pengobatan baru yang cuma ada di Jepang, yang dikenal dengan hyperthermia, yaitu pengobatan dengan meletakkan sejenis lempengan panas di tumornya, hingga kankernya terlepas dari tubuhnya. Akhir 2008, Puji kembali berobat ke Jepang. Namun, jangankan untuk berobat, pihak rumah sakit malah menyuruh dia pulang saja dengan alasan, kondisiya yang sedang drop saat itu tidak memungkinkan untuk menjalankan pengobatan. Ternyata, ini menjadi perjalannya yang terakhir. Tahun baru 2009, Puji mengatakan, “penyakit ini harus diangkat,aku sudah cape” Tertegun aku mendengar, tak kuduga, sudah sedalam itu penderitaannya. Satu minggu sebelum aku berangkat ke Jepang untuk tugas kantor, aku mengontaknya untuk pamit, saat itu Puji menyatakan kesepiannya, dia meminta agar aku mengontak dan sering-sering datang kerumahnya saat aku telah kembali. Namun, pekerjaanku yang seabreg ini, menyita seluruh waktuku hingga tak tersisa, walau hanya untuk sekedar menemanimu. Padahal, mungkin dia membutuhkan orang untuk sekedar diajak curhat, karena dia memang hanya tinggal berdua bersama ibunya. Saat itu aku berjanji padanya (bahkan pada diriku sendiri….) untuk lebih meluangkan waktu untuk menemaninya, mengisi hari-harinya.. Namun, Allah S.W.T ternyata berkehendak lain, sebelum aku dapat memenuhi janji yang aku ucapkan itu, tepat keesokan hari setelah aku kembali dari Jepang, persis 2 minggu setelah kontak terakhir aku dengannya, dihari Minggu menjelang azan subuh, 29 Maret 2009, tepat jam 04:30, Puji binti Harsono pergi meninggalkan dunia yang fana ini dalam tidurnya. Sahabatku yang sangat aku sayangi ini berpulang untuk selamanya. Di hari-hari akhirnya, kondisinya terus menurun hingga sulit untuk bernapas, sepertinya kanker sudah menjalar ke bagian tubuhnya yang lain. Setelah lima hari di rawat di RS Dharmais, Puji meminta untuk pulang ke rumah, sepertinya dia ingin memenuhi panggilan Nya dalam ketenangan di rumahnya sendiri. Mungkin Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menerima do’anya, agar terbebas dari perjuangan menghadapi kanker yang ganas itu. Segurat senyum tersungging dibibir almarhumah, selamat jalan, sahabat, mohon maaf aku tidak dapat memenuhi permintaannmu, yang ternyata menjadi permintaan terakhirnya… Mewakili keluarga almarhumah mbak Puji, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas segala bantuan moril dan materiil yang telah diberikan kepada almarhumah. Semoga segala amal ibadah para sahabat sekalian mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah Yang Maha Kuasa, amien. (Viana Wicaksono) “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai itu tumbuh seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas, Maha mengetahui” (Al-Baqarah-261) |
|
Last Updated ( Apr 28, 2009 at 02:08 PM )
|
|