|
Perdamaian seindah sakura di musim semi
“Menteri luar negeri Subandrio jang tiba di Beograd pada Jum’at bersama-sama dengan Presiden Soekarno, pada hari Sabtu pagi telah meninggalkan ibu kota Jugoslavia itu untuk kembali ke Djakarta”, tulis harian Mestika, Senin 20 Januari 1958. Pada hari itu, bertempat di Departemen Luar Negeri Indonesia, Jalan Pejambon, Jakarta, ditanda-tangani perjanjian damai antara Indonesia dan Jepang. Pihak Jepang diwakili oleh Menteri Luar Negeri, Aichiro Fujiyama. “Kini kita dapat memulai hubungan baru setjara normal dalam suasana persahabatan dan kerdjasama serta persamaan deradjad jang moga-moga membawa manfaat bagi kedua bangsa kita” ujar Menlu Subandrio.
Seperti yang tertulis pada pasal 1 dari 11 pasal Kesepakatan Pembayaran Pampasan (Baishou kyoutei), nilai yang disepakati adalah 80.308.800.000 Yen, atau pada saat itu setara dengan US$.223.080.000 yang akan dicicil selama 12 tahun dan sebagian dibayar dalam bentuk barang produksi Jepang dan jasa. Disamping tujuh dokumen perjanjian damai yang dipublikasikan, masih ada dua dokumen lagi yang tidak dipublikasikan pada saat itu, yaitu 1. Dokumen perjanjian perantara pampasan perang mengenai pengangkatan kapal karam (yang sekaligus membatalkan perjanjian mengenai pengangkatan kapal karam senilai US 6,5 juta dollar, yang ditandatangani bulan Desember 1953)dan, 2. Notulen perundingan.
Perjalanan panjang pampasan
Desember 1951, delegasi menteri transportasi Juanda datang ke Jepang untuk merundingkan pampasan perang. Dengan dalih kerugian besar yang ditanggung akibat Perang Dunia ke II, Indonesia mengajukan angka US$.17,7 Milyar. Besarnya angka yang diajukan, menyurutkan pihak Jepang untuk berunding. 1953, pemerintahan Sastroamijoyo memulai lagi perundingan yang terputus, pada perundingan ini, jumlah kerugian yang diajukan pihak Indonesia turun menjadi US$.17,2 Milyar yang ditawar hanya 125 juta Dollar. Karena jumlah yang diajukan dengan yang ditawarkan amat jauh, maka perundinganpun kembali berakhir tanpa hasil.
13-Juli-1956, PM. Juanda mengirimkan surat kepada PM. Kishi untuk memulai kembali perundingan yang buntu. Indonesia menunjukkan itikad baiknya dengan menyodorkan angka 400 juta dollar untuk pampasan disamping 400 juta dollar lainnya sebagai bantuan ekonomi dan perpanjangan waktu pembayaran utang. Jepangpun menunjukkan itikad baiknya dengan menaikkan angka menjadi 200 juta dolar. Perundingan yang mulai menunjukkan kemajuan berarti ini kemudian berlanjut dengan usulan yang di lontarkan oleh Duber Keliling Jepang untuk masalah Asia Tenggara, Kobayashi, di akhir Septermber. Dia mengusulkan 1. Biaya pampasan 200 juta dollar yang dicicil selama 10 tahun. 2. Bantuan ekonomi yang bersifat hadiah senilai 200 juta dollar, yang dibayar setelah pembayaran pampasan selesai dan dicicil selama 10 tahun dan bantuan perdagangan senilai 400 juta dollar. Ditengah perundingan, terdengar kabar bahwa Perdana Menteri Kishi akan datang, maka,untuk mempersiapkan kedatangan, Kobayashipun menawarkan usul baru, pampasan menjadi 230 juta dollar, bantuan ekonomi 400 juta dollar. Indonesia menerima usul tersebut,
November 1957, PM. Kishi datang ke Jakarta untuk melakukan perundingan empat mata dengan Presiden Sukarno. Kedua pemimpin negara ini berhasil menyelesaikan masalah pampasan perang yang selama itu menjadi batu penghalang normalisasi hubungan kerjasama kedua negara, PM.Kishi mengusulkan untuk menghapus utang Indonesia ! Keputusan besar ini tentu saja diterima oleh Bung Karno dengan suka cita. Tak terbilang resiko reaksi dalam negeri terhadap usulan ini yang menanti PM.Kishi sekembalinya ke Jepang.
|